TELAAH METODOLOGI PENYAHIHAN IBNU HIBBAN TERHADAP HADIS ((اقْرَؤُوا عَلَى مَوتَاكُم يس))

  • Noor Ikhsan Silviantoro
  • Sucipto .
  • Ikmal Pauli
Kata Kunci: Tasahul, Majhul, Dha’if.

Abstrak

Ketika berbicara mengenai penyahihan hadis secara mendetail, kita akan memahami adanya lima syarat yang telah disepakati para, dan ada pula syarat-syarat tambahan atau pembanding yang dikemukakan beberapa ulama. Di antara ulama yang memiliki perbedaan syarat penyahihan hadis adalah Ibnu Hibban. Beliau memiliki persyaratan hadis sahih yang terbilang cukup unik, yang berada antara sangat ketat dan sangat longgar. Sehingga dengannya muncul friksi dalam menetapkan kesahihan beberapa hadis di kitab Shahihnya dengan ulama lain. Inilah yang menjadi pendorong kami untuk melakukan penelitian ini. Tujuannya agar kita bisa mengetahui bagaimana metodologi Ibnu Hibban dalam menyahihkan hadis, bagaimana pandangan ulama dalam menilai metodologi beliau, dan contoh sampel hadis yang diperselisihkan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana kami berusaha menyajikan gambaran lengkap tentang permasalahan yang sedang dibahas dengan mengekplorasi dan mengklarifikasi beberapa pandangan yang berbeda langsung dari sumber primer, lalu kami menggunakan analisis, agar membuahkan kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan kami menggunakan jenis penelitian non interaktif, yang tidak menghimpun data kecuali melalui analisis dokumen dan pustaka dan tidak melibatkan interaksi dengan responden. Dengan penelitian ini, dihasilkan beberapa kesimpulan, yaitu metodologi Ibnu Hibban dianggap tasahul dalam memberi persyaratan hadis sahih yang telah disepakati ulama, yang memungkinkan rawi majhul ke dalam kategori tsiqah, dan inilah yang dikritisi oleh para ulama. Di antara contoh hadisnya adalah hadis tentang Yasin, sehingga derajatnya dha’if.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##
Diterbitkan
2019-05-18